
Episiotomi adalah sayatan pada perineum, yaitu area di antara vagina dan anus, untuk memperlebar jalan lahir saat persalinan. Prosedur ini dilakukan oleh bidan atau dokter pada kondisi tertentu, bukan sebagai tindakan rutin dalam setiap persalinan normal.
Kapan Episiotomi Dilakukan?
Episiotomi dapat dipertimbangkan ketika bayi perlu segera dilahirkan karena menunjukkan tanda gawat janin. Prosedur ini juga mungkin diperlukan pada persalinan dengan bantuan forceps atau vakum, posisi bayi sungsang, maupun saat tenaga kesehatan menilai ada risiko robekan perineum berat.
Sebelum membuat sayatan, tenaga kesehatan biasanya memberikan anestesi lokal, kecuali area tersebut sudah mati rasa karena epidural. Luka episiotomi kemudian dijahit setelah bayi lahir.
Apakah Episiotomi Selalu Diperlukan?
Tidak. Penggunaan episiotomi secara rutin tidak direkomendasikan. Keputusan dilakukan berdasarkan kondisi ibu, bayi, dan perkembangan persalinan. Bila situasinya memungkinkan, tenaga kesehatan akan menjelaskan alasan tindakan dan meminta persetujuan ibu.
Apakah Pijat Perineum Mengurangi Risiko Episiotomi?
Pijat perineum episiotomi berkaitan karena pijat perineum antenatal dikaitkan dengan kemungkinan episiotomi yang lebih rendah. Namun, praktik ini tidak menjamin ibu melahirkan tanpa sayatan atau robekan.
Pijat umumnya dimulai sekitar minggu ke-34. Agar terasa lebih nyaman, Rintik Massage Oil dapat digunakan sebagai medium selama 5–10 menit. Oil membantu memberikan glide dan menjaga kelembapan kulit; manfaat yang diteliti tetap berasal dari praktik pijatnya.
Apa yang Perlu Diketahui Setelah Episiotomi?
Area jahitan dapat terasa nyeri selama pemulihan. Segera berkonsultasi jika nyeri memburuk, luka berbau, keluar nanah, muncul demam, perdarahan meningkat, atau jahitan tampak terbuka. Hindari memijat luka sebelum dinyatakan aman oleh bidan atau dokter.
